sarolangunonline.com
Gerbang Informasi Kito

Suku Anak Dalam Ngadu Ke Dewan, Ini Penyebabnya…

NGADU: Tampak warga SAD Desa Lubuk Bedorong, Mantap, bersama anaknya saat berdialod dengan Anggota DPRD Sarolangun. Poto:wahid

SAROLANGUN – Warga Suku Anak Dalam (SAD) dari Dusun Renah Maneh Desa Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun, Mantap (50) bersama anaknya Lori (30), Senin pagi kemarin (23/01) sekitar pukul 10.30 WIB mendatangi gedung DPRD Sarolangun untuk bedialog langsung dengan anggota dewan. Kedatangan warga SAD ini disambut anggota DPRD, Hermi, S.Sos, Bambang Gunawan, M Syafi’i dan mengajak langsung berdialog di ruangan Fraksi PKS, untuk menampung aspirasi dan keluhan warga SAD dari Kecamatan Limun ini.

Mantap dalam dialog bersama dewan ini, mengatakan beberapa keluhan yang diderita masyarakat SAD selama ini, salah satunya mengenai gedung sekolahan SAD yang dibangun tahun 2010 silam, tak kunjung difungsikan. Belum lagi jaraknya lebih dari 1 kilo dari pemukiman warga, dengan jalan menuju sekolahan tersebut buruk dan mendaki sehingga anak-anak SAD yang mau menimba ilmu tak sanggup menempuhnya.

“Kami minta gedung sekolahan itu dipindahkan ke bawah, karena naik ke atas anak kami tidak mampu. Dulu pas mau dibangun, kami sudah minta letaknya dibawah tapi nyatanya tetap di atas. Sampai sekarang sekolah tidak ada gunanya, guru pun tidak ada pak, gimana anak kami mau sekolah, anak-anak yang mau belajar itu ada sekitar 15 orang pak,’’ kata Mantap, yang juga menjabat Ketua RT 07 Dusun Renah Maneh, Desa Lubuk Bedorong.

Selain itu, ia juga menyampaikan keluhan buruknya transportasi jalan di pemukiman SAD, serta minimnya bantuan pemerintah, seperti Bantuan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang tidak pernah dirasakan, bantuan beras Raskin yang sudah sangat lama tidak pernah dapat, dan gaji ketua RT warga SAD yang sudah setahun lebih tidak pernah dibayar.

“Kami ada 24 KK pak, beras raskin juga kami tidak dapat, bantuan lain juga tidak ada, Kartu KKS juga tidak dapat, bahkan gaji ketua RT aku nian dak dapat. Apolah kami pak, di situ kami kerjanya hanya mendulang emas, kalau dompeng cuma bisa nebeng, ada juga yang motong karet, dan berburu babi untuk dijual,’’katanya.

Ia juga mengakui, dulu pernah diberikan bantuan pemerintah, seperti bantuan rumah warga SAD, bantuan 10 ekor kambing, dan juga bantuan raskin hanya tiga kali, itupun sudah sangat lama. Dan sekarang bantuan Raskin itu tidak pernah lagi di terimanya, seperti warga lainnya.