sarolangunonline.com
Gerbang Informasi Kito

Perajin Batik di Sarolangun “Menjerit”

IMPOR: Hasil karya batik perajin Sarolangun yang masih menggunakan bahan baku impor. Poto:wahid

Bahan Baku Masih Impor

SAROLANGUN-Dampak nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ini menyentuh ke level Rp 14.808,00- membuat para perajin batik di Kabupaten Sarolangun kena dampaknya. Bahan baku batik seperti kain dan pewarna batik masih banyak diimpor, sehingga saat rupiah melemah harga bahan baku makin mahal.

Kabid Industri, Dinas Perindag, UKM dan Koperasi, Muhammad Adhim, mengatakan bahwa pada umumnya semua industri yang ada di Sarolangun, masih menggunakan bahan baku barang impor dan terkena dampaknya ketika nilai tukar rupiah melemah.

Baca juga: Sarolangun Juara I Desaign dan Pewarnaan Batik Tingkat Provinsi

“Industri yang menggunakan bahan barang inpor jelas pengaruh contoh kain batik, ternyata rekan kita dari bungo, mereka sudah stop produksinya karna harga dolar naik,” katanya.

Tak hanya itu saja, para perajin batik Sarolangun, yang ada di Kecamatan Sarolangun dan Kecamatan Singkut, katanya juga menjerit akibat naiknya harga dollar. Perajin Batik di Sarolangun, katanya masih membeli bahan baku kain dan pewarna batik dari Jawa, sementara di Jawa bahan baku diperoleh dari barang impor luar negeri.

“Kemudian kawan-kawan di Singkut juga perajin batik juga agak menjerit, karena belinya di Jawa, dan Jawa itu belinya ke luar negeri. Beli bahan baku otomatis naik, sehingga menjual barang pasti dinaikkan karena tidak mau rugi, sehingga yang korbankan konsumen, dampaknya jelas konsumen berkurang dan pendapatan berkurang bahkan merugi karena tidak laku,”katanya.

Baca juga: Ketua TP-PKK Sarolangun Kunjungi Pameran Kriya Nusantara

Sebagian perajin batik di Sarolangun dalam mengantisipasi naiknya harga dollar, saat ini mengakalinya dengan memanfaatkan pewarna alam yang ada di Sarolangun.

“Terpaksa ngakalinya dari pewarna alam, kalau yang selama ini impor, mereka saat ini pakai pewarna alami yang dipake,” katanya.

Selain perajin batik, kata Adhim, pelaku industri tahu dan tempe juga berpengaruh akibat melejitnya harga dollar. Karena bahan baku berupa kedelai yang masih impor dari luar negeri.

“Industru tempe dan tahu juga kena dampaknya, karena bahan baku kedelai yang impor, akibatnya pelaku industri mengurangi ukuran tahu dan tempe untuk mengimbangi kenaikan harga kedelai,”katanya.

Kemudian, ia berharap kepada seluruh pelaku industri yang ada di Sarolangun, agar memberdayakan bahan baku lokal, sehingga tidak ada kenaikan harga.

“Kalau bisa mari kita berdayakan industri lokal, kita budayakan bahan baku lokal, selama ini dari luar negeri, kita produksi sendiri disini, berdayakan industri lokal,”harapnya.(so31)