sarolangunonline.com
Gerbang Informasi Kito

Oknum Warga Karmen Blokir Jembatan

BLOKIR: Tampak jalan yang dipalang oleh pemilik tanah. Poto: wahid

SAROLANGUN-Cik Uda, warga Desa Karang Mendapo, Kecamatan Pauh yang juga pemilik tanah lokasi pemangunan jembatan melakukan pemblokiran jalan jembatan layang yang dibangun oleh pemerintah desa setempat. Pria tersebut melakukan pemblokiran karena tidak terima diatas tanah miliknya dibangun jembatan layang tanpa ada ganti rugi lahan. Padahal sebelumnya menurut Cik Uda sudah ada kesepakatan dengan Kades untuk ganti rugi lahan.

Namun hingga jembatan selesai dibangun, tanah termasuk tanaman pohon duku, sampai saat ini belum ada kepastian mengenai ganti ruginya oleh pihak desa. Sehingga pemilik tanah tersebut dengan berani memasang palang papan. Akiatnya jembatan layang tersebut tidak bisa dilewati.

“Saya terpaksa harus menutupnya dengan papan karena bangunannya sudah selesai, namun sampai saat ini belum juga diganti rugi,’’ katanya kemarin.

Cik  Uda menjelaskan, pada awalnya sedikitpun dirinya tidak tahu ada bangunan yang mengenai tanahnya. Sehingga dia kaget saat pulang dari ngelayat melihat beberapa orang menggali di tanahnya, lalu orang-orang itu dimarahinya. Namun tak berselang lama Kades Karang  Mendapo mengahmpirinya menjelaskan bahwa ingin membangun jembatan layang  dan berjanji akan mengganti rugi tanah dan tanaman yang terkena bangunan jembatan layang tersebut.

“Deni (Kades) mengatakan ingin mengganti rugi tanah saya dia minta hitung saja, kemudian tanaman saya duku akan diganti Rp 2.500.000 perpohon, itulah yang membuat saya membebaskan tanah saya untuk membangun jembatan layang itu,” ceritanya.

Kemudian dia merasa kecewa dan merasa dilecehkan setelah selesai pembangunannya, hal itu didiamkan. kKemudian Kades hanya memberikan ganti rugi sebesar Rp 250.000 namun langsung dikembalikan karena dianggap pelecehan.

“Sampai hari ini belum ada ganti rugi tampaknya didiamkan saja, pernah Kades memberikan uang Sebesar 250.000 beberapa waktu lalu, namun uang itu saya kembalikan rasanya itu sangat pelecehan buat saya,” sesalnya.

Sementara itu Kades Karang Mendapo Deni, tidak banyak berkomentar terhadap hal tersebut namun dia mengakui pernah berjanji akan mengganti rugi, namun hal itu butuh proses musyawarah  perangakat desa. Setelah selesai proses musyawarah desa tersebut lanjutnya, baru akan panggil pemilik tanah untuk dilakukan keterangan ganti rugi.

“Memang kita sudah janji akan mengganti rugi, tapi kita butuh rapat perangkat desa dulu, dan kita akan panggil pemilik tanah dan langsung kita minta keterangannya berapa ganti rugi tanah dan tanamannya,” katanya saat dihubungi lewat Ponselnya Jum’at yang lalu.(so31)