sarolangunonline.com
Gerbang Informasi Kito

Mahasiswa Yang Diduga Ujaran Kebencian di Medsos Meminta Maaf

SAROLANGUN- Seorang oknum mahasiswa Universitas Jambi Fakultas Ekonomi, Jose Naldi Pakpahan, yang sempat membuat heboh umat islam atas perilakunya memposting dugaan ujaran kebencian di media sosial (facebook) saat ini tengah diproses pihak kepolisian.

Kini, permohonan atau permintaan maaf tidak hanya datang dari sipelaku saja, akan tetapi ibu kandung dari sipelaku dan para umat kristiani yang ada di desa Semaran, Kecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun tepat kelahiran, Jose Naldi Pakpahan itu juga meminta maaf kepada para umat Islam.

Asri, Ibu Kandung sipelaku pada saat dikonfirmasi harian ini dengan suara yang serak diiringi air mata atas perlakuan anaknya itu dirinya sangat menyesalkan. Sehingga iapun sangat memohon agar perilaku anaknya dimaafkan.

Atas perlakuan tidak terpujinya perilaku anaknya itu, menurut Asri adalah dampak dari ketidakwajaran meninggalnya bapak sipelaku pada tahun 2015 yang bernama, Jamintar Pakpahan.

“Semenjak bapaknya meninggal dibunuh orang di ladang karet kami tahun 2015 lalu. Semenjak itu anak saya terpukul habis, sehingga banyak sekali tingkah lakunya yang tidak wajar, jangankan kepada orang lain kepada saya sendiri ibunya, sering sekali bersikap kasar kasar.”papar asri.

Menurut Asri, ujaran kebencian yang dilakukan oleh anaknya dimadia sosial Facebook tersebut bukanlah anaknya yang memostingkannya. Melainkan oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Pengakuannya kepada saya bukan dia yang memostingkan kefacebook tapi orang lain. Dia memang melakukan tapi di WA saja.WA kan pribadi sifatnya,”tandasnya lagi.

Bakir, Kepala Desa Semaran Kecamatan Pauh, saat diwawancara harian ini menyebutkan dengan kejadian tersebut dapat dimaafkan. Akan tetapi kepala desa Semaran ini berharap atas tindakan tidak terpuji yang dilakukan sipelaku harus diproses secara hukum.

“Kami warga desa ini memaafkan, tapi proses hukum tetap jalan,”ujar singkatnya.

Berdasarkan penelusuran harian ini, atas perilaku penistaan agama tersebut permintaan maaf dari keluarga besar pelaku dan para umat kristiani di Desa  Semaran dipublikasikan berbagai media dan sepanduk. Hal ini dilakukan agar persoalan itu tidak terus berlarut.(so30)