sarolangunonline.com
Gerbang Informasi Kito

Keberadaan Pemulung di Gedung Madrasah Akan Segera Didata

M Alkhawarizmi

SAROLANGUN-Puluhan warga yang bekerja sebagai pemulung barang bekas yang tinggal di Eks (Bekas) Madrasah Ibtidaiyah Negri (MIN) RT 08 Kelurahan Pasar, Kecamatan Sarolangun, ternyata belum bisa dipastikan apakah memang warga Kelurahan Pasar atau tidak. Hal itu baru akan diketahui setelah pemerintah kelurahan akan turun langsung mengecek ke lapangan secara langsung.

BACA : Puluhan Pemulung di Sarolangun tak Punya Tempat Tinggal

Lurah Pasar Sarolangun, M Alkhawarizmi, kemarin (31/01) saat dikonfirmasi harian ini mengatakan, akan turun langsung ke sana, pada Rabu (01/02). Untuk mendata dan mengecek sejumlah KK dan KTP para warga pemulung tersebut.

“Belum kita pastikan, apakah warga kita atau tidak, masih akan dicek KK kebenarannya. Besok kita akan kesana,’’ katanya.

Ia juga mengakui bahwa memang gedung itu dulunya di pakai sebagai Madrasah Negri yang di bawah kementerian agama, saat ini MIN tersebut pindah ke Kelurahan Aur Gading, tepatnya di Perumnas SMA 1 Sarolangun. Kemudian, MIN tersebut juga merupakan tanah pekuburan warga Dusun Sarolangun dan juga sebagian warga Kelurahan Pasar. Sebab, untuk tempat pemakaman muslim berada di Simpang Raya, Kelurahan Aur Gading.

“Belum tengok KK, tadi Seklur dengan staf cek kesitu. Persoalan gedung MIN, dulu itu bawah Kemenag, ada tanah wakaf warga Dusun Sarolangun. Kampung Lubuk di situ juga Muara Sawah. Kalau warga kita ado tapi tidak banyak, sebagian di Simpang Raya,’’ jelasnya.

Namun ia memperkirakan sedikitnya ada 7 kepala keluarga yang tinggal di sana, dan sudah lama tinggal di sana. Ke depan, ia akan berkoordinasi dengan Kemenag Sarolangun mengenai status gedung tersebut, apakah akan dihibahkan kepada warga atau memang dilakukan perubuhan, karena itu tanah wakaf bagi warga.

“Kalau aset min itu dipakai pemulung. Kita sudah koordinasi dengan Kemenag, dan pertemuan belum ada dengan warga, tapi tahun ini kita akan upayakan pertemuan agar statusnya apa di hibahkan untuk warga atau dirubuhkan untuk pemakaman umum,’’ tambahnya.

Selain itu, mengenai bantuan beras Miskin, yang saat ini namanya berubah menjadi Beras Sejahtera (Rasta), untuk warga pemulung tersebut memang belum pernah dapat, dikarenakan bekum terdata oleh RT untuk dilaporkan ke pihak kelurahan.

“Raskin, ada Ketua RT dan lingkungan, laporkan ke kantor lurah. Sekarang ini namanya Rasta, terkadang tidak terakomodir semua, Besok saya arahkan juga, cari data akuratlah. Kalau mau nambah kita tidak masalah, karena itu warga yang tidak mampu,’’ tutupnya.

Sementara itu, ketika media ini kembali mendatangi warga pemulung yang berada di bekas madrasah, mengeluhkan ketidakadaan perhatian pemerintah daerah atas kondisi masyarakat pemulung yang tinggal di sana.

“Kami tidak pernah dapat raskin, beasiswa anak anak kami yang lagi sekolah, pernah diminta KK tapi tidak ada bantuan, kami ini apolah hanya mulung, suami saya pergi bawa gerobak, kalau saya pakai karung nyari barang bekas, kadang adolah tapi lepas makan sehari bae,’’ kata Astuti (45), ibu empat orang anak ini.(so31)