sarolangunonline.com
Gerbang Informasi Kito

Aroma Pungli di Tengah Kota Sarolangun

PROTES: Pengendara kendaraan bermotor roda dua protes karena tarif parkir tak sesuai perda alias dipungut 2 ribu. Foto dokumen

SAROLANGUN–Praktik kecurangan retribusi parkir tepi jalan umum diduga terjadi di tengah Kota Sarolangun. Petugas parkir menetapkan biaya sebesar Rp 2000 untuk satu sepeda motor. Padahal sesuai peraturan daerah, biaya parkir motor hanya Rp 1000.

Pantauan langsung harian ini, pratik kecurangan ini telah terjadi cukup lama dikawasan parkir yang ada di tengah kota Sarolangun. Mahalnya tarif parkir yang ditetapkan petugas ini, dikeluhkan sejumlah warga.

“Saya bayar Rp 1000, tapi petugas parkir minta Rp 2000. Karena tidak mau ribut, saya kasih juga,” kesal Arwel, Minggu (4/6).

Senada juga dikatakan Ihsan, saat dirinya memarkir motornya di depan toko sepatu jalan lintas Sumatera Sarolangun. Dimana petugas parkir diminta dirinya membayar Rp 2000. Padahal dirinya hanya beberapa menit meninggalkan motornya dikawasan tersebut.

“Baru turun dari motor, jok motor kita langsung ditutup pakai karung. Dan saat mau bayar parkir Rp 1000 petugas menolaknya dan minta bayar Rp 2000,” sebutnya.

Tak hanya itu, Nurul juga mengaku sangat tidak ikhlas pemberian jasa parkir sebesar Rp 2000. Menurut dirinya ini sangat tidak sesuai informasi yang didapatkannya.

“Terus trang saja saya juga sangat tidak ikhlas sekali dengan pembayaran parkir 2000. dikasih uang 5000 malah dikembalikan 3000,’’ celoteh Nurul.

Sepengetahuan dirinya, bahwa tarif parkir yang ditetapkan oleh Pemkab Sarolangun untuk sepada motor Rp 1000 dan mobil Rp 2000. Namun kenyataan di lapangan selama ini tarif parkir dinaikan sebesar 100 persen, untuk motor Rp 2000 dan mobil Rp 3000.

“Berarti separuh dari hasil pendapatan parkir mereka setiap hari masuk kantong pribadi. Kalau sehari mereka bisa memarkir 200 motor, dalam satu bulan sudah berapa mereka dapatkan,” sebutnya.

Terkait hal ini Wakil Bupati Sarolangun, H Hillalatil Badri dihubungi mengatakan, bahwa tarif parkir yang diambil petugas parkir harus sesuai yang telah ditetapkan. Jika lebih dari itu sebutnya, merupakan pengutan liar (pungli).

“Kalau diminta lebih itu berarti liar. Ini harus ditertibkan,” kata Hilal.

Katanya, terkait hal ini dirinya akan memanggil dinas terkait. Pertama untuk mengetahui berapa sebenarnya perda parkir yang telah ditetapkan.

“Saya kan baru, jadi saya akan panggil dinas terkait terlabih dahulu. Terimakasih atas informasi seperti ini,” sampainya kepada Sarolangun Ekspres melalui sambungan telepon, Minggu (4/6).(so30)