Warga Tak Mau Ada Tetesan Darah Dua Perusahaan Didesak Tetapkan MoA  

 

PERTEMUAN: Pertemuan antara warga Gunung Kembang dan PT MBS dan PT CEI di Hotel Abadi Sarolangun. Poto:wahid

SAROLANGUN-Masyarakat Kelurahan Gunung Kembang Kecamatan Sarolangun kembali mengadakan pertemuan dengan dua perusahaan pertambangan batubara PT Metalic Baru Sinergi (MBS) dan PT Caritas Energi Indonesia (CEI) di ballroom Abadi Hotel Sarolangun, Rabu (28/3). Pertemuan tersebut menindaklanjuti pertemuan sebelumnya yang dilaksanakan minggu lalu di Ponpes Rahmatul Ummah Kelurahan Gunung Kembang, guna membahas keluhan dan tuntutan warga Gunung Kembang karena rumah warga retak-retak, jalan berdebu dan diduga ada pencemaran limbah akibat aktivitas pertambangan dan pengangkutan batubara.

Baca Juga: Rumah Warga Retak,Warga Tuntut Tanggungjawab PT Metalic dan PT Caritas

Setidaknya warga ada empat item tuntutan yang ditujukan pada perusahaan, yakni warga menuntut adanya Jaminan kesehatan berupa asuransi kesehatan akibat polusi atas aktifitas angkutan batubara, kemudian jaminan pemeliharaan bangunan dan tanaman akibat aktifitas pertambangan tersebut. Selain itu warga juga menuntut, pemberdayaan warga yang terkena dampak langsung berupa kesempatan kerja pada perusahaan dan itu berlaku bagi masyarakat yang ingin bekerja, dan menuntut adanya kemitraan berdasarkan kerjasama bidang pengangkutan, keamanan dan hal lain yang dapat dikerjakan oleh warga yang terkena dampak langsung.

Dalam pertemuan itu diputuskan, bahwa tuntutan Warga Tanjung Rambai akan ditampung dalam Memorandum Of Agreemen (MoA) dua perusahaan yakni PT  Metalic Baru Sinergi (MBS)  dan PT Caritas Energi Indonesia (CEI). Ke dua perusahaan meminta waktu paling lama tiga minggu untuk mempersiapkan MoA yang dimaksud.

Sebelumnya, Camat menyebutkan agar dalam pertemuan tersebut tetap mengedepankan menjaga ketertiban dan kenyamanan dalam keberlangsungan rapat tersebut.

Manager PT CEI, Haris menyebut bahwa empat tuntutan warga tersebut sebenarnya sudah termasuk dalam MoU dengan masyarakat yang ditandatangani oleh perangkat desa. Salah satunya,  perusahaan bertanggungjawab atas dampak lingkungan yang menyangkut kesehatan warga sekitar.

“Kami siap sepenuhnya menangani permasalahan itu,  dimana adanya rumah warga yang retak, dan masalah kesehatan,”sebutnya.

Ia juga menyebutkan poin yang ke tiga,  warga yang menuntut pemberdayaan masyarakat, dengan memperkerjakan masyarakat. Ia mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan rekrutmen, kurang lebih ada 12 orang yang diperkerjakan di bagian kemanan.

“Kita buat tiga ship,  agar warga bisa berpartisipasi. Dan poin yang keempat, menuntut pola kemitraan antara masyarakat dan perusahaan, bahwa kita sudah lakukan itu, bahwa kita melakukan kerja sama yang baik,” jelasnya.

Salah seorang warga Gunung Kembang,  Zulhitmi, mengeluhkan selama ini masyarakat sangat terganggu, khususnya pada malam hari akibat aktivitas perusahaan. Ia meminta ada tim khusus atau ahli dalam mengkaji jalan yang dilewati alat berat agar tidak lagi mengganggu masyarakat.

“Sedih kami pak,  malam-malam terganggu aktivitas alat berat saat istirahat. Solusinya bukan uang tapi asuransi. Istirahat kami itu terganggu malam, bapak enak istirahat di Jambi, kami harap kajilah pak dampak sosial, keretakan rumah sudah sebulan, tolong pak ini dikaji secara khusus tim ahli, seperti jalan, kami tidak mau ada korban, kami tidak mau ada tetesan darah,” katanya.

Zulhitmi juga menegaskan dalam hal ini jangan sampai ada korban yang jatuh baru dilakukan solusi, karena persoalan ini sudah lama terjadi, jangan menunggu akibatnya lebih parah lagi.

“Kalau tidak,  istirahat dulu dak. Kalau tidak ada solusinya, dan jangan lambat menangani masalah ini,” tegasnya.

Begitu juga dengan Pemilik Delivery Order (DO), Dedi  menyebutkan selama tidak pernah dilibatkan dalam pembentukan kesepakatan.

“Kami pemilik DO tidak dilibatkan, dan kami harap jangan ada yang dirugikan, baik masyarakat, perusahaan dan DO. Perlu dicari solusinya,’’ tandasnya.(so31/so9)