Orangtua Murid SD yang Dikeluarkan dari Sekolah Lapor KPAI

KERINCI- Tidak puas dan merasa tidak mendapatkan keadilan dan hak semua anak-anak di Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak akhirnya keluarga Izat Hamizan (8) siswa kelas II SD 133/III Desa Pondok Siguang Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci terpaksa membawa kasus tersebut ke tingkat Provinsi Jambi.

Hal ini setelah sebelumnya, keluarga siswa ini melaporkan kasus tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang kemudian meminta pihak keluarga untuk menyelesaikan persoalan tersebut di tingkat Provinsi Jambi terlebih dahulu dan untuk mendatangi Kantor P2TPA Provinsi Jambi yang berlokasidi Komplek Perkantoran Gubernur Jambi.

Selain itu jika di daerah juga tidak bisa mempasilitasi penyelaian persoalan ini, KPAI akan juga akan segera turun tangan. Menurut orangtua siswa, Eka Sartika, saat ini anaknya sedang berada di Kota Jambi bersama pamannya untuk melaporkan peristiwa yang menimpa Izat yang dikeluarkan dengan semena-mena oleh pihak sekolah tanpa melalui prosedur yang hanya dengan alasan nakal.

“Tadi pagi saya ditelpon pamanya Izat. Kalau mereka sedang berada di kantor perlindungan Anak Provinsi dan tengah dimintai keterangan,” kata Eka.

Sebelum mendatangi ke kantor P2TPA, tambah Eka, pihak keluarga juga telah melaporkan ke KPAI di Jakarta. Hal ini dilakukan bukannya tidak percaya dengan pemerintah kabupaten namun sejak dikeluarkan dari sekolah dan dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci hingga saat ini persoalan tersebut seolah di diam-diamkan tidak mendapat respon yang positif.

“Sekarang siswa SD sudah mulai masuk sekolah, sementara Izat hingga kini belum tentu kejelasannya. Dan upaya ini diambil oleh pihak keluarga agar Izat juga mendapat keadilan sama seperti anak-anak lain dan berharap tidak ada lagi korban yang serupa,” harap Eka.

Ditanya hingga kasus ini dilaporkan ke P2TPA Provinsi Jambi, apakah ada itikad baik dari pihak sekolah untuk mengajak Izat kembali lagi bersekolah, Eka mengakui hal itu sebelumnya memang sangat diharapkan walau Izat telah menjadi korban tidak bisa ikut ujian karena dikeluarkan satu minggu jelang ujian semester ganjil baru-baru ini.

“Sampai saat ini tidak ada pihak sekolah yang datang. Baik itu utusan maupun yang lainya,” beber Eka.

Ia berharap selaku orangtua siswa, agar anaknya ditempatkan sama seperti anak-anak yang lain. Tidak ada pilih kasih apalagi di tempat formal di sekolah. Dan berharap P2TPA bisa mencari langkah yang tepat menangani kasus ini agar di kemudian hari tidak ada lagi kasus yang sama.

“Kasihan kalau anak-anak dibuat begini, ia merasa disisihkan dan hina saat melihat teman-temannya menerima lapor ujian baru-baru ini dan ia juga mengalami trauma dan masih takut dengan oknum gurunya yang mengusirnya dari sekolah,” ujarnya .

Untuk diketahui, kasus yang dialami oleh Siswa kelas II SD 133/III Desa Pondok Siguang kecamatan Keliling Danau ini terjadi pada 22 November 2017 lalu. Saat itu yang bersangkutan dikeluarkan dari sekolah dengan alasan nakal.

Namun diprotes oleh pihak keluarga siswa karena tindakan pihak sekolah tanpa melalui prosedur yang lazim seperti peringatan dan pemanggilan orang tua terlebih dahulu. Bahkan sebelum diberhentikan siswa ini juga pernah diskor tiga kali dalam satu bulan berturut-turut dengan alasan yang sama dan juga tidak pernah ada pemanggilan orangtua dan peringatan terlebih dahulu. (metrojambi.com/jenn)