Kebijakan KPU Untungkan Caleg Berkantong Tipis

SAROLANGUN-Komisi Pemilihan Umum (KPU) membantu para kontestan Pemilihan Legislatif (Pileg) dalam pembuatan Alat Peraga Kampanye (APK). Jumlah, ukuran, hingga lokasi pemasangannya kini sudah diatur dalam Peraturan KPU Nomor 23 Tahun 2018.

Bahkan KPU Kabupaten Sarolangun telah mengeluarkan surat keputusan terkait penetapan kesepakatan, jumlah, ukuran dan zona pemasangan APK di Kabupaten Sarolangun. Keputusan tersebut tertuang dalam surat keputusan nomor 41/HK.03.1-kpt/1503/kpu-kab/IX/2018, yang ditetapkan 22 September 2018 bersama Parpol peserta Pemilu 2019 mendatang.

Kebijakan KPU itu tentunya sangat membantu Calon Legislatif berkantong tipis atau yang tidak memiliki modal besar dalam menghadapi Pileg 17 April 2019 mendatang.

Tentu saja dengan kebijakan KPU tersebut, Pileg 2019 mendatang akan berbeda dengan Pileg sebelum-sebelumnya. Dimana pada Pileg periode sebelumnya terjadi perang baleho dan spanduk antar Caleg. Para calon berlomba-lomba memasang baleho ditempat-tempat strategis dengan ukuran yang tidak mengikat.

Sementara itu Dosen senior Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Jambi yang juga Ketua Pengelola Universitas Jambi Kampus Sarolangun Drs H Navarin Karim, MSi, juga pernah menyatakan, baleho atau spanduk Caleg tidak perlu atau ditiadakan saja.

‘’Saya bilang itu (Baleho, red) tidak memberikan informasi. Lebih bagus dibuat semacam buku pintar tadi,’’ ucapnya.

‘’Lebih baik buku pintar, supaya masyarakat bisa menilai orang ini prestasinya begini. Termasuk latar belakang pendidikan dan pengalaman orgasnisasi kalau gak ada pengalaman organisasi akan susah. Padahal mereka mau menjadi anggota Parlemen. Parlemen artinya bicara,’’ sebutnya.

Bahkan menurut Navarin, dirinya pernah menyarankan bagi partai-partai politik ketika dia mempromiskanCaleg-calegnya itu membuat buku pintar atau semacam buku panduan.

‘’Tidak usah dalam bentuk kemasan yang bagus, dalam bentuk setensil jadi. Tetapi seluruh Caleg yang dipromosikan itu dicantumkan jati dirinya termasuk pengalaman dan prestasi sehingga masyarakat bisa memilih dengan tepat,’’ katanya.

Hal senada juga diucapkan pengamat politik Sarolangun Carles Rangkuti, saat dihubungi kemarin (21/10). Menurutnya Baleho tak begitu menentukan seorang calon terpilih atau tidak. Sebab pada padaPileg 2014 yang lalu, khususnya di Sarolangun ada calon dengan baleho yang cukup banyak diberbagai tempat strategis malah tak terpilih.

Menurutnya, lebih baik Calon mengedepankan visi dan misi dan lebih gencar melakukan pendekatan ke masyarakat dengan facetuface artinya bertatap muka.

‘’Karena terbukti calon yang terpilih adalah calon-calon yang gencar melakukan interaksi ditengah akar rumput (masyarakat bawah, red),’’ kata pria yang juga berkiprah sebagai wartawan ini .

Seperti diketahui  KPU Sarolangun telah menetapkan zonasi pemasangan APK. Untuk ukuran baleho dengan ukuran 3 x 4 meter, dan spanduk dengan ukuran 1,5 x 5 meter, dan KPU akan memfasilitasi sesuai dengan peraturan KPU Nomor 23 Tahun 2018, tidak mencantumkan poto calon, hanya logo partai, nomor urut partai, visi-misi dan poto pengurus Parpol.

“Pemilu sebelumnya itu baleho membuat perorangan, langsung menulis nama dan calon sesuai dengan Dapil. Sesuai aturan KPU, hanya difasilitasi oleh KPU,” kata Ketua KPU Sarolangun, belum lama ini.

Untuk APK tambahan yang dibuat Partai Politik, bisa menampilkan poto calon legislatif tapi per Dapil, dan tidak bisa perseorangan. Untuk baleho lima perdesa dan spanduk 10 perdesa/kelurahan.(so9)