DP3A Sarolangun Tangani 60 Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

SAROLANGUN – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sarolangun mencatat dari awal Tahun 2017 lalu hingga awal Mei 2018 ini ada 60 kasus yang sudah ditangani.

Kadis DP3A Sarolangun, Sudirman, Senin (21/5) mengatakan bahwa 60 kasus tersebut terdiri dari 45 kasus Kekerasan Anak, dan 14 kasus kekerasan perempuan, ditambah 1 kasus yang ditangani beberapa hari yang lalu.

“Dalam melaksanakan tugas kita, ada kita temukan beberapa kasus, sementara ini data yang terhimpun, untuk kasus anak-anak mulai tahun 2017 sampai hari ini jumlah 45 kasus, ada kekerasan, pelecehan seksual, kebanyakan kasus pelecehan,” katanya

“Kasus perempuan ada 14 kasus, 12 kasus tahun 2017 lalu dan 2 kasus tahun 2018 ini, dan ada satu lagi kasus di Bathin VIII beberapa hari yang lalu jadi totalnya 60 kasus baik kasus perempuan maupun anak,” katanya lagi.

Sudirman juga menyebutkan dengan berbagai kasus tersebut, pihaknya tahun 2018 ini akan meningkatkan pembinaan dan pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan, agar tidak terjadi peningkatan.

“DP3A tugasnya melakukan pembinaan terhadap perempuan dan anak, dan juga kita lindungi. Kita lihat anak-anak ini masih sekolah, ada yang masih SD dan SMP ini sangat menyedihkan bagi kita. Kedepan kita akan proaktif untuk menangani kasus ini, kita juga pembinaan dan preventifnya, semua kecamatan ada, tapi paling banyak ada di Sarolangun,” katanya.

Dalam menangani kasus, lanjutnya pihaknya akan melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan, kepolisian selaku aparat hukum, dan penanganan awal dilakukan oleh DP3A melalui tenaga Psikolog. Namun,  saat ini katanya pihaknya membutuhkan enam orang tenaga Psikolog lagi untuk membantu menangani kasus kekerasan anak dan perempuan, yang katanya setidaknya satu psikolog menangani dua kecamatan.

“Kita butuh Psikolog,  enam orang. Separoh dari jumlah kecamatan,  kalau kasus mengalami peningkatan bisa-bisa butuh 10 orang, saat ini hanya ada dua orang. Kita harap kalau ada penerimaan CPNS, kita harap ada formasi psikolog,” tukasnya.(so31)