Ditelantarkan Suami, Husna Ngadu ke DP3A

MENGADU: Tampak Husna menunjukkan buku nikah saat berada di kantor DP3A. poto:adi

SAROLANGUN-Malang nian nasib yang dialami Asmaul Husna (25) warga Desa Mandiangin Pembangunan Kecamatan Mandiangin. Ibu muda dengan satu anak ini ditelantarkan suaminya lebih dari 10 bulan. Karena nasib malang yang menimpanya Husna mengadu ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sarolangun, Rabu kemarin (10/01).

Sebelum mengadukan nasibnya ke DP3A Kabupaten Sarolangun, Husna kepada harian ini menceritakan nasib malang yang dialaminya. Diceritakannya, pada awalnya dirinya bersama suaminya bernama Riko bersama seorang anak laki-laki yang masih berumur 2 tahun tinggal di kebun yang berada di Desa Pemusiran Dalam. Keluarga kecil mereka tinggal di pondok kecil sambil menanam karet.

‘’Suami saya hobinya mengadu ayam, jadi seringkali meninggalkan kami dalam pondok dan pergi ke dusun,’’ jelasnya.

Namun menurut Husna, sekitar sepuluh bulan yang lewat, suaminya pergi dengan alasan mengadu ayam dan ternyata tidak pulang-pulang lagi.

‘’Terpaksa saya dan anak saya yang saat itu masih berumur satu tahun tinggal dalam pondok berdua, kami makan dengan beras seadanya dengan lauk hanya sayur yang ditanam disekitar pondok. Sedangkan suami saya tidak jelas kemana perginya,’’ kata Husna sambil menitikkan air mata.

Setelah beberapa minggu tinggal berdua dengan anaknya dalam pondok yang boleh dikatakan berada di tengah hutan, Husna akhirnya tidak tahan dan menhubungi orangtuanya. Mendapatkan kabar anaknya ditinggal suami ayah kandung Husna yang bernama Anas langsung menjemput dan dibawa ke kediaman mereka di Desa Mandiangin Pembangunan.

‘’Yang lebih sedihnya lagi saya dapat informasi ternyata suami saya sudah nikah lagi di Desa Muara Ketalo, sementara saya dan anak saya ditelantarkan tak diberi nafkah,’’ katanya lagi-lagi meneteskan air mata.

‘’Makanya saya melapor ke sini (DP3A, red), agar saya mendapatkan keadilan. Kalau bisa suami saya diproses secara hukum, agar dia jera dan tak ada lagi korban-korban selanjutnya,’’ sebutnya.

Ketika ditanya apa alasan suami meninggalkannya, Husna sendiri mengaku tidak tau persis, sebab belum ada kesempatan untuk menanyakannya.

Sementara itu Kepala DP3A melalui Kabid Perlindungan Perempuan Purba Nur Khikmawati saat ditemui harian ini membenarkan menerima pengaduan penelantaran suami dari salah satu warga Mandiangin. ‘’Kalau nama korbannya tidak bisa kita sebutkan dan harus kita rahasiakan,’’ katanya.

Apa yang dialami koban tersebut katanya merupakan tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tak diperbolehkan undang-undang. Selain menerima laporan, korban juga telah diberikan konsling dari Psikolog yang ada di DP3A.

‘’Kepada korban kita berikan waktu berpikir, apakah ingin diselesaikan dengan mediasi dengan artian rujuk kembali dengan suami atau diselesaikan secara hukum,’’ tandasnya.

Menurutnya, jika memang ingin dimediasi, maka pihaknya akan melakukan pendampingan. Demikian halnya kalau ingin diproses secara hukum, pihaknya akan mendampingi korban melapor ke Polres Sarolangun.(so9)